Kalau suatu hari kita menemukan seseorang yang tidak mau disalahkan, padahal nyatanya orang tersebut bersalah dan jelas salah. Namun tidak terima dipersalahkan, malah membuat pembelaan – pembelaan yang bersifat kamuflase. Dan membuat subjek baru.
Ya.. lakukan seperti apa yang saya lakukan hari ini, cukup menjawab dengan tenang “Iya, kamu selalu benar kok, kan kamu gak pernah salah”.
-
Well, punya teman seruangan (dikantor) yang menurut saya sangat bermasalah dengan latar belakang kehidupannya. Saya berusaha mengerti, bahwa dirinya menjadi / memiliki karakter seperti ini sekarang adalah karena memang berangkat dari latar belakang yang pastinya menunjukkan karakternya dia saat ini.
Berasal dari keluarga broken home. Menjadi anak, adik, kakak, menantu dan istri yang tidak dihargai. Suami yang seharusnya menjadi partner atau kawan hidup malah ditakuti. Masih terbelenggu dengan kisah cinta suaminya di masa lalu. Kalau dilihat dan didengar kisah kehidupannya, hmm.. jujur saya pribadi merasa kasihan sih dengan situasi maupun hal – hal yang dilalui dalam kehidupannya.
Cuma, saya akan lebih mengasihani diri saya, kalau saya tidak pernah bertemu orang seperti ini, hari ini. Ditempat ini. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah hidupnya. Pertama, salah satunya adalah ketika terlalu cerewet terhadap pembantu rumah tangganya, yang setiap menit, setiap jam ditelepon. Untuk cek anaknya, untuk packing baju maupun instruksikan membuat jus buah untuk anak – anaknya. Wajar kalau pembantunya ganti – ganti terus. Buat calon ibu yang nanti kedepannya akan memakai jasa pembantu rumah tangga, pelajaran kaya gini penting. Gak perlu terlalu cerewet sama pembantu rumah tangganya. Kalau sudah memutuskan punya pembantu rumah tangga, ya kasih kepercayaan juga sama pembantunya.
Kedua, belajar berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu. Kasihan melihat teman seruangan saya masih merasa “benci dan dendam” pada kisah masa lalu suaminya. Seharusnya ketika sudah memutuskan untuk memulai pernikahan dengan sang suami, ya masa lalunya mbok ya diterima dan dimaafkan. Dan tidak perlu membenci orang dimasa lalunya. Sampai sumpah serapah segitunya. Justru seharusnya berterima kasih dengan orang dimasa lalunya karena sudah membuat suaminya mempunyai kepribadian dan karakter yang lebih baik. Justru, dengan calon suami memilih kita untuk dinikahi, itu tandanya kita adalah yang terbaik bagi calon suami dan bukan orang / wanita lain.
Ketiga, kalau seandainya anda adalah seorang ibu bijak. Apa yang akan anda pilih? Menyembuhkan penyakit myoma anda yang sudah parah? Atau uang yang ada dipakai untuk konsultasi ke dokter gizi supaya bisa menurunkan berat badan?
Teman saya pilih menggunakan uangnya untuk konsultasi ke dokter gizi supaya bisa menurunkan berat badan.
Diawal, motivasinya bekerja adalah untuk mengobati penyakitnya karena suaminya tidak mau membiayai pengobatannya. Begitu uang melihat uang di rekening, yang dilakukan adalah pergi ke dokter gizi untuk konsultasi penurunan berat badan.
Silakan dinilai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar